Namaku Ulfa Khairina, nama yang bagus, katanya sih..... (setidaknya banyak yang berkata begitu). Teman-teman biasa memanggilku dengan panggilan Ulfaa, tapi teman-teman dekatku suka memanggil Upa, seprti adik-adikku menyebutku dengan nama itu. Mungkin mereka lebihmudah menyebutku begitu, meskipun panggilan itutidak kusukai, kecuali ada tambahan kata imut atau chayanx di belakangnya. Meskipun kata imut sendiri sering di konotasikan dengan kalimat itam mutlak, karena memang kulitku gelap, bahkan di banding dengan saudara-saudaraku sekalian.
Hampir 20 tahun lalu aku dilahirkan disebuah kota dingin bernama Takengon, tepatnya di hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1987. Lahir di kota dingin mungkin ada kaitannya dengan hobiku berdiam diri di rumah melakukan 3M, tapi sama sekali tak ada hubungannya dengan demam berdarah yang lagi ngetrend sekarang. 3M yang aku lakukan juga sangat bermanfaat bagi pribadi, nusa, bangsa dan agama. Membaca, menulis dan menggambar.
Nggak tau kenapa, mungkin 3M ini ada kaitannya juga dengan keperempuananku. Konon, anak perempuan itu cenderung menyendiri dan suka mengurung diri di rumah. Apalagi sebelum Ibu kita Kartini melawan kebodohan, tapi aku tetap menjadi perempuan rumahan demi melaksanakan hobi 3Mku ini. But, jangan coba-coba tanya kenapa kalau aku sudah berada di luar rumah. Aku bisa berbuat apa saja demi membalas dendam keterpingitanku. Yach....seperti jalan-jalan ke danau laut tawar, laut, tempat nongkrong teman, perpustakaan dan kemana aja deh yang buat inspirasi menguap menjadi sebuah tulisan, walau tulisanku nggak bagus-bagus amat tapi cukup bangga-lah kalau dimuat.
Untungnya aku punya golongan darah O, kemanapun aku terbang melayang, meski takaran darahku tinggal 80 lagi, aku tetap bisa loncat sana sini. Aku cukup merasa kuat meski teman-teman suka khawatir dengan fisikku. Sering, aku tiba-tiba pitam, padahal beberapa menit yang lalu aku baru saja ketawa sana sini. Kondisiku memang susah ditebak.
Kata orang, golongan darah itu mencerminkan karakter seseorang. Setidaknya begitu kalo sering baca primbon. Kalau kata primbon aku anaknya mampu menggairahkan suatu grup, pemurah (baik hati), dicintai semua orang, kurang hati-hati, mudah terpengaruh. Aku sebenarnya punya karakter yang gimana yaa..... ada yang iseng buat singkatan dari namaku. Katanya begitulah karakter diriku. Unik, Lucu, Favorit dan Aneh (Ulfa). Duh.....unik apanya, perasaan aku Cuma gadis kecil yang belum tau apa-apa, aku juga tidak lucu, favorit apalagi, aneh.....? please,deh.......
Karakterku yang bisa aku pahami sendiri adalahaku anaknya nggak bisa diam. Suka berexplorer kemana-mana tanpa spasi dan titik. Sebelum tubuhku benar-benar melemah dan teman-teman belum datang ke rumah dengan sekantong jeruk, tetap bagiku nonstop activity. Faktor itu juga yang membuat ukuran tubuhku nggak gede lagi, katanya sih......
Aku juga nggak suka asap, berada dekat asap aku bisa sesak napas. Tapi aku paling senang diajak ke laut, menatap alam dari puncak gunung, punya banyak kenalan, apalagi kalau ada yang menyapa di jalan atau dimana aja.
Adakah seseorang yamg memotivasiku memiliki banyak teman? Ada, dong. Rasulullah SAW, idola dan uswatun hasanah ini perlu dicontoh. “Musuh satu terlalu banyak, teman seribu terlalu sedikit”, begitu kali yaa....... aku juga mengidolakan orang tua, bagaimanapun, sebelum kita melirik dunia luar, kita lebih dulu mengenal mereka, serta meniru mereka.
Itu juga mempengaruhi makanan kesukaanku. Aku mengidolakan ortuku, maka aku sangat cinta dengan masakan Ibuku sendiri, disamping aku suka makan bakso, aneka mie, ayam panggang dan ayam goreng. Hmmm...... lezat sekali, apalagi didampingi segelas teh dingin.
Tapi sayang, statusku sebagai mahasiswamasih mempunyai isi kantong terbatas. Setiap bulan harus menunngu beasiswa dari orang tua. Karena aku belum punya pekerjaan. Pekerjaan saat ini di sumberpost hanya sebagai wartawan.
Pengalaman yang sangat berkesan dan menurutku tak terlupakan saking pahitnya juga di lapangan. Saat aku menjadi seorang wartawan. Saat itu aku disuruh meliput tentang duatu pelatihan, tapi ketika aku berhasil mewawancarai pesertanya dan akan mewawancarai ketua panitia, dia malah membentakku.
“ Bilang sama pimred kalian, kami bukan orang-orang sombong yang mau dipublikasikan kalu buat acara. Kami bukan orang-orang sok, yang baru punya media kecil aja sok banget!!” katanya. Saat itu juga air mataku tumpah ruah, nggak nyangka segitunya.